Hacktivism
Para hacker aliran ini tidak membobol demi uang. Mereka membobol karena tidak sepaham dengan korban mereka. “Hacktivism merupakan bentuk demonstrasi baru di dunia maya,” ujar Sean-Paul Correll, peneliti dari PandaLabs.
Contoh kegiatan hacktivism adalah serangan DDoS–pengiriman data bertubi-tubi sehingga sebuah server situs web kewalahan melayani sehingga akhirnya berhenti bekerja–terhadap PayPal dan MasterCard pada bulan Desember karena kedua layanan finansial itu mengeblok transfer uang dari pengguna mereka ke WikiLeaks. Contoh lain adalah serangan DDos terhadap Motion Picture Association of America and the Recording Industry Association of America yang dilakukan oleh forum 4chan. Keduanya diserang karena membuat situs web The Pirate Bay ditutup.
Perangkat pintar
Popularitas ponsel pintar atau perangkat bergerak lain, seperti iPad, yang terhubung ke internet merupakan “mainan” baru bagi para penjahat. Target utama mereka, menurut perusahaan keamanan asal SecureWorks, adalah transaksi perbankan yang dilakukan lewat ponsel pintar atau perangkat pintar lain.
“Di mana ada uang, di situ ada penjahat,” kata Patricia Titus, Vice President & Chief Information Security Officer dari Unisys.
“Awan mendung”
Cloud computing adalah salah satu tren berkomputer di tahun 2010. Data ditaruh di internet, bisa diakses kapan saja dan di mana saja asalkan ada jaringan. Sebuah solusi yang jadi titik cerah bagi beberapa bisnis. Tapi, awan bisa mendung, bukan?
Contoh paling simpel adalah ditemukannya malware di tempat penyimpanan file Rapidshare. Malware bernama Trojan-Dropper.Win32.Drooptroop.jpa itu mengkhawatirkan, demikian menurut peneliti dari Kaspersky Lab Vicente Diaz, “Karena tidak tampak pada link Rapidshare dan dapat mengecoh perangkat keamanan biasa.”
Ketika semakin banyak perusahaan menggunakan sistem komputasi di awan ini, SecurityNewsDaily memprediksikan banyak pula hacker berkutat di situ.
Rekayasa sosial
Sophos menyebutkan, bulan Desember lalu ada pesan palsu menyebar lewat Twitter. Pesan menipu pengguna komputer sehingga mereka percaya komputer mereka terserang virus sehingga mereka terdorong mengunduh antivirus palsu yang link-nya disertakan dalam pesan itu pula.
Tipuan seperti ini bukan hal baru, tapi akan terus berlanjut di tahun 2011, bahkan dengan jumlah yang lebih banyak. “Sekitar 500 juta,” demikian sebut SecurityNewsDaily. Jumlah yang mirip dengan jumlah pengguna Facebook. “Rekayasa sosial lebih meyakinkan, lebih tak kentara, lebih luas penyebarannya, serta lebih profesional,” kata Baumgartner dari Kaspersky Lab.
Salah satu faktor yang bakal berkontribusi di rekayasa sosial adalah layanan penyingkat URL. Layanan itu sering dipakai untuk mempersingkat URL panjang agar pas dengan situs web media sosial, seperti Twitter, yang membatasi jumlah karakter.
Seorang siswa ilmu komputer bernama Ben Schmidt bereksperimen dengan situs web penyingkat URL buatannya. Proyek yang disebut “Evil URL shortener” itu tidak hanya mempersingkat alamat URL, tapi juga melakukan serangan dengan teknik DDoS. “Ini bukti kalau situs web penyingkat bisa membawa orang ke mana saja,” kata Schmidt.
Stuxnet
Stuxnet adalah nama sebuah malware tipe worm yang mulai menyebar pada Juni 2010 dan diprediksi akan tetap jadi momok pada 2011. Worm yang menyerang sistem yang menggunakan peranti lunak Siemens dalam sistem pengendali industri ini ditemukan menyerang pembangkit listrik tenaga nuklir di Iran.
Diperkirakan, Stuxnet dikirim oleh negara tertentu, bukan oleh individual. Internet merupakan tempat baru bagi para negara untuk berperang, kata peneliti, dan akan berkembang pada 2011.
Contoh serangan yang dilancarkan oleh suatu negara lewat internet adalah serangan China ke Google dan 34 perusahaan lain pada Januari 2010. Serangan itu, menurut McAffee, sangat rumit.
Dari semua ancaman yang muncul, apa yang bisa kita lakukan? Paling tidak: hati-hati.
Kamis, 28 April 2011
5 Ancaman Keamanan Internet di Tahun 2011
Rabu, 27 April 2011
Hati-Hati Bahaya Free HotSpot Wi-Fi
Metode paling efektif untuk mencegah penyadapan data melalui Wi-Fi adalah menggunakan VPN. Namun, VPN terlalu rumit karena pada saat ini tidak ada solusi VPN plug-and-play.
Bagi masyarakat modern, teknologi Wi-Fi (Wireless-Fidelity) adalah bagian kehidupan sehari-hari. Di kota-kota besar di Indonesia, Wi-Fi tidak hanya merambah perkantoran, juga pusat-pusat perbelanjaan, restoran, kedai kopi, hotel, kampus, dan bahkan perumahan-perumahan. Fungsi utama Wi-Fi adalah akses internet nirkabel.
Di tempat-tempat umum, Wi-Fi ada yang disuguhkan gratis dan ada pula yang berbayar. Di tempat-tempat umum pula, misalnya di pusat perbelanjaan, biasanya tersedia banyak sekali pilihan titik akses. Titik-titik akses itu tampak ketika pengguna notebook harus memilih SSID (Service Set Identifier) alias nama jaringan nirkabel yang hendak digunakan. Saat sebuah notebook sudah terhubung dengan SSID tertentu, maka notebook itu pun sudah masuk ke jaringan Wi-Fi.
Malware Analyst Kaspersky Lab Christian Funk memperingatkan, pengguna notebook harus waspada ketika mengakses Wi-Fi di tempat umum. Sebab, Funk menegaskan, akses internet melalui jaringan Wi-Fi sangat rawan serangan berupa pembajakan data. Untuk menjebak korban, penjahat umumnya membuat titik akses nirkabel (hotspot) gratis atau menyalin halaman login para penyedia layanan Wi-Fi tepercaya. Selanjutnya, penjahat tinggal menunggu korban terpancing masuk ke jaringan-jaringan berbahaya tersebut.
"Untuk melakukan serangan ini, pelaku tidak perlu memiliki pengetahuan teknis komputasi tingkat tinggi. Pelaku hanya perlu membuat titik akses palsu guna menjebak korban. Setelah korban terperangkap, maka pelaku bisa menyadap data yang diketikkan korban di halaman-halaman web yang dibuka melalui Wi-Fi," tutur Funk.
Funk menjelaskan, target utama serangan ini adalah mencuri informasi kartu kredit korban saat korban melakukan transaksi online menggunakan Wi-Fi. Namun, penjahat juga bisa mencuri informasi lain seperti akun e-mail sekaligus password-nya, serta akun-akun yang digunakan korban untuk mengakses situs-situs internet, misalnya situs-situs jejaring sosial.
Funk memperingatkan, pencurian data tersebut memiliki konsekuensi serius. Sebagai contoh, apabila penjahat mampu mencuri informasi kartu kredit korban, maka penjahat bisa memanfaatkan kartu kredit korban untuk berbelanja. Tagihan belanja itu pun jatuh ke korban. Padahal korban tidak pernah melakukan belanja tersebut.
Contoh yang lain, apabila penjahat mampu mencuri akun dan password dari e-mail korban, maka penjahat bisa memanfaatkan e-mail korban untuk menebar spam (e-mail tidak diinginkan). Kejahatan-kejahatan pun bisa dilakukan apabila penjahat mampu mencuri akun lain, seperti akun situs jejaring sosial.
Funk menegaskan, metode paling efektif untuk mencegah pembajakan data melalui jaringan Wi-Fi adalah menggunakan VPN (Virtual Private Network). Dengan VPN, data dari notebook pengguna dikirimkan ke server melalui sebuah terowongan virtual, demikian pula sebaliknya. Alhasil, data tersebut tidak dapat disadap. Namun begitu, Funk mengakui, teknologi VPN terlalu rumit bagi sebagian besar pengguna notebook.
"Enkripsi lalu lintas data nirkabel terlalu rumit bagi pengguna. Pada saat ini pun belum ada solusi VPN yang bersifat plug-and-play (bisa digunakan tanpa perlu setting)," tandas Funk.
Tanpa VPN, pengguna Wi-Fi hendaknya jangan melakukan transaksi finansial atau mengakses internet banking. Juga, pengguna harus rajin-rajin mengganti password dari akun-akun yang dimiliki. Jika harus melakukan transaksi internet banking secara mobile, Funk menyarankan, pengguna notebook sebaiknya menggunakan jaringan internet 3G.
"Internet 3G menjadi alternatif menarik dari Wi-Fi karena lalu lintas data 3G lebih sulit dibajak. Juga, jaringan internet 3G memiliki cakupan lebih luas daripada Wi-Fi. Kecepatan internet 3G juga lebih dari cukup untuk sebagian besar tujuan komputasi bergerak,"