Tampilkan postingan dengan label teroris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teroris. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Mei 2011

9 Jenis Bom Yang Pernah Diledakin Di Indonesia

Hingga kini ada sembilan jenis bom rakitan yang digunakan teroris di Indonesia. Pelaku bom bunuh diri di Kompleks Kepolisian Resor Cirebon Kota pun diduga menggunakan salah satunya. Berikut ini jenis bom yang pernah menggegerkan negeri ini:

http://image.tempointeraktif.com/?id=72005&width=380

1. BOM BINGKISAN
Tempat : 23 gereja di berbagai kota
Waktu: 24 Desember 2000
Bahan: gotri, Black powder
Jenis Bom : rakitan
Korban : 20 tewas, 35 luka berat
Perakit: Azahari
2. BOM ROMPI
Tempat : Paddy's Cafe, Bali
Waktu: 12 Oktober 2002
Jenis Bom : Black powder
Bahan: Potasium nitrat/kalium nitrat, belerang, 6 pipa PVC, 4 kg bubuk TNT.
Perakit : Azahari

3. BOM MOBIL
Tempat : Depan Sari Club, Bali
Waktu: 12 Oktober 2002
Jenis Bom : Black powder
Bahan : 900 kg potassium chlorate/kalium klorat, 40 kg bubuk aluminium, 100 kg belerang, 25 kg TNT. Dibawa mobil minibus.
Perakit : Azahari dan Dulmatin
Korban: 220 orang tewas
Tempat: Hotel JW Marriott
Waktu: 5 Agustus 2003
Jenis Bom : Black powder
Bahan: 3 galon bensin, 3 kotak bubuk TNT, kalium klorat 120 kg, dibawa minibus
Perakit : Azahari
Korban: 11 tewas
Tempat : Depan Kedutaan Besar Australia, Jakarta
Waktu: 9 September 2004
Jenis Bom : Black powder
Bahan: 120 kg TNT kalium klorat, belerang, dan bubuk aluminium dimasukkan mobil boks
Perakit: Azahari
Korban: 8 tewas
4. BOM RANSEL
Tempat : R.AJA's Bar and Restaurant, Kuta dan Nyoman Café di Bali
Waktu: 1 Oktober 2005, korban
Bahan : Sulfur, potasium klorat, nitrat, gotri dimasukkan ransel
Perakit: Dulmatin
Korban: 22 tewas
5. BOM PIPA
Tempat : Pasar Tentena, Sulawesi Tengah
Waktu: 28 Mei 2005
Bahan : Potasium klorat, TNT, sulfur dimasukkan pipa
Perakit : Upik Lawanga alias Taufik Buraga
Korban: 21 tewas
6. BOM SENTER
Tempat : Kawua, Poso, Sulawesi Tengah
Waktu: 9 September 2006
Bahan : Bom dirakit di dalam senter berbatere enam dan meledak setelah tombol senter dipencet.
Perakit : Upik Lawanga alias Taufik Buraga
Korban: 1 tewas
7. BOM KOPER
Tempat : Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, Jakarta
Waktu: 17 Juni 2009
Bahan : Potasium klorat, sulfur, dan alumunium powder 10 kilogram, mur baut dimasukkan koper.
Perakit : Ario Sudarso
Korban: 9 orang tewas
8. BOM SEPEDA
Tempat : Jalan Kalimalang, Jakarta
Waktu: 30 September 2010
Bahan : mesiu, karbit dan 50 buah paku berukuran 4 sentimeter, ditaruh di kardus di boncengan sepeda.
Perakit : Ahmad bin Abu Ali
Korban: 2 orang terluka
9. BOM BUKU
Tempat: kantor radio 68 H, Badan Narkotika Nasional, rumah Yapto Suryosumarno, Jakarta
Waktu: 15 Maret 2011
Bahan: potasium perklorat
Korban: 6 cedera
10. Bom di Masjid At Taqwa di Kompleks Kepolisian Resor Cirebon Kota?
Hingga berita ini diturunkan puluhan orang terluka termasuk Kepala Kepolisian Resor Ajun Komisaris Besar Herukoco.

Jumat, 06 Mei 2011

Inilah Perangkat Canggih dalam Penyerbuan Osama bin Laden



Selain melibatkan pasukan khusus berkualifikasi tinggi dari Navy SEALs, operasi pemburuan dan penyerangan Osama bin Laden di Abbottabad, Pakistan, juga melibatkan berbagai teknologi tinggi. Bahkan, operasi militer yang dilakukan pada Senin (2/5/2011) dini hari waktu Pakistan itu sangat bergantung pada keakuratan informasi yang diperoleh dari berbagai perangkat teknologi ini.


Sejak Badan Pusat Intelijen AS (CIA) berhasil melacak tempat tinggal Abu Ahmed al-Kuwaiti—kurir utama Osama di Abbottabad, Agustus 2010—CIA menggandeng dua lembaga intelijen lain untuk mengawasi rumah yang terletak tak jauh dari Akademi Militer Kakul itu.


Dua lembaga itu adalah Badan Keamanan Nasional (NSA), yang bertugas menyadap dan menganalisis seluruh sinyal komunikasi elektronik di rumah tersebut, serta Badan Intelijen-Geospasial Nasional (NGA), yang bertugas mengumpulkan, mengembangkan, dan menganalisis citra satelit yang menggambarkan lokasi tersebut.


The Huffington Post, mengutip pernyataan Gedung Putih, mengatakan, pihak intelijen dan militer mengandalkan citra satelit dan ”teknologi sangat maju yang masih dirahasiakan” untuk mengembangkan citra satelit itu menjadi informasi yang meyakinkan bahwa Osama berada di dalam rumah itu.


Dari hasil analisis citra satelit ini, militer AS bisa membangun replika rumah tersebut, lengkap dengan seluruh detail, seperti tinggi tembok yang mengelilingi rumah itu. Replika itu dibangun di kompleks Pangkalan Udara Baghram, Afganistan, awal April, sebagai sarana latihan akhir pasukan SEALs.


Menurut pakar penginderaan jarak jauh dari Universitas Chiba, Jepang, Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, sangat mungkin AS menggunakan satelit mata-mata yang mampu menampilkan citra di balik dinding rumah.


Josaphat mengatakan kepada Kompas, Rabu, satelit yang dilengkapi sensor gelombang mikro di bawah frekuensi S-band mampu melihat menembus dinding yang terbuat dari berbagai jenis bahan bangunan, mulai dari batu bata, adonan tanah, hingga beton.


Mitch Derman dari lembaga analisis intelijen i2 menambahkan, pihak intelijen AS juga menggunakan perangkat lunak analisis jaringan sosial untuk merangkai berbagai informasi intelijen yang seolah tak berkaitan menjadi memiliki pola yang bisa diikuti. Perangkat lunak ini pernah digunakan untuk melacak Saddam Hussein.


Perangkat identifikasi


Untuk mengidentifikasi sasaran yang berhasil mereka lumpuhkan, pasukan SEALs, yang menyerang rumah Osama, juga dilengkapi dengan perangkat biometrik genggam Secure Electronic Enrollment Kit II (SEEK II). Alat seberat kurang dari 1,8 kilogram itu mampu memindai bagian iris mata, sidik jari, dan wajah, kemudian mengirimkan secara nirkabel ke markas mereka untuk dicocokkan dengan basis data identitas buronan Biro Investigasi Federal AS (FBI).


Untuk memastikan identifikasi ini, tim penyerang juga diduga dilengkapi dengan perangkat tes DNA portabel, yang mampu mengeluarkan hasil komparasi DNA hanya dalam waktu dua jam.


Akhir 2010, tim dari University of Arizona memperagakan sebuah alat yang mampu menyelesaikan tes DNA ini dalam waktu dua jam. Padahal, tes DNA lazimnya butuh waktu hingga 14 hari. Diduga kuat, militer AS telah memiliki alat semacam ini.


Source : Kompas